Pages

19 Juli 2014

Memperjuangkan Kehidupan karena Berharga




Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menyaksikan terancamnya kehidupan sesama Anda? Anda diam dan menutup mata Anda rapat-rapat? Atau Anda mau memperjuangkannya?

Sebuah panel penyelidik PBB, Kamis (19/12/2013), mengatakan pihaknya yakin pemerintah Suriah sedang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan melenyapkan orang secara sistematis. Para pemberontak belum lama ini juga mulai melenyapkan para lawan mereka. Taktik perang digunakan pemerintah Presiden Bashar Assad. Taktik itu dapat dikatakan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Mengapa? Karena hal itu merupakan bagian dari kebijakan untuk menyebarkan teror dan penderitaan mental di kalangan orang-orang yang bertanya-tanya tentang orang yang mereka cintai.

Namun, kata panel itu, sebagian besar oposisi melakukan kejahatan perang dengan menculik pendukung hak asasi manusia, wartawan, aktivis, pekerja kemanusiaan, pemimpin agama dan orang-orang yang dianggap sebagai pendukung pemerintah Assad. Itu merupakan kejahatan perang karena walau tidak sistematis, para korban biasanya disandera untuk mendapatkan tebusan atau untuk dipertukarkan. Keberadaan mereka tidak disembunyikan.

Kelompok oposisi Suriah di pengasingan, yaitu Koalisi Nasional Suriah, mengatakan setiap kelompok oposisi yang secara ilegal menangkap dan manahan warga sipil tak berdosa sedang melanggar tujuan dasar pemberontakan Suriah. Juru bicara koalisi itu berkata, "Tindakannya melayani kepentingan rezim."

Paulo Sergio Pinheiro, seorang diplomat dan ilmuwan Brazil, mengatakan pihaknya menemukan "sebuah pola luas yang konsisten" yang dilakukan pihak keamanan, angkatan bersenjata dan milisi pro-pemerintah Suriah. Mereka menangkap orang secara massal atau pencarian dari rumah ke rumah, di pos pemeriksaan dan rumah sakit. Kemudian mereka melenyapkan orang-orang itu dan bahkan menyangkal mereka pernah ada. Dalam tiga tahun konflik, perang saudara telah menewaskan lebih dari 120.000 orang.

Sahabat, semestinya dunia yang semakin maju dan beradab tidak lagi mengandalkan perang untuk menyelesaikan konflik. Sayang, perang masih menjadi solusi bagi penyelesaian suatu masalah. Padahal akibat perang itu sangat mengerikan. Kemanusiaan selalu menjadi korban dari sebuah perang. Kehidupan manusia selalu menjadi sasaran kemusnahan.

Laporan panel PBB tadi membuat bulu kuduk kita berdiri. Mesti begitukah tingkah manusia terhadap sesamanya? Sampai-sampai melakukan pembunuhan secara sistematis terhadap sesamanya yang tidak berdosa? Semestinya di dunia yang semakin beradab ini, pemusnahan terhadap kehidupan telah dihentikan. Yang diandalkan manusia adalah hati yang berkelimpahan kasih. Hati yang melihat sesamanya sebagai saudara yang mesti diselamatkan ketika berada dalam bahaya.

Orang beriman mesti mengatakan ‘stop’ terhadap pemusnahan terhadap kehidupan. Orang beriman mesti senantiasa memperjuangkan kehidupan. Mengapa? Karena kehidupan itu sangat berharga. Kehidupan menjadi kesempatan bagi manusia untuk mengekspresikan kasih sayangnya terhadap sesamanya.

Karena itu, kita mesti mulai dari diri kita sendiri untuk senantiasa memperjuangkan kehidupan dalam peristiwa-peristiwa hidup kita. Memang, hal ini tidak gampang, karena kita masih memiliki egoisme. Namun dengan rahmat Tuhan, saya yakin kita akan dikuatkan untuk memilih memperjuangkan kehidupan daripada kematian. Mari kita terus-menerus berjuang untuk keselamatan umat manusia. Dengan demikian, hidup ini memiliki makna yang mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT



1118

Memerangi Korupsi untuk Hidup Lebih Baik




Kiranya semua kita setuju kalau korupsi itu seperti penyakit kanker yang perlahan-lahan menggerogoti kehidupan manusia. Karena itu, korupsi adalah dosa berat yang mesti disingkirkan

Gubernur Tokyo Naoki Inose tanggal 19 Desember 2013 lalu mengundurkan diri, karena terlibat skandal keuangan senilai 50 juta yen atau sekitar Rp 5 milyar. Gubernur Inose dituduh menerima uang sekitar 50 juta yen dari perusahaan kesehatan Tokushukai yang mengoperasikan 280 fasilitas kesehatan, termasuk 66 rumah sakit.

Hal itu terungkap akibat kejelian polisi menemukan bukti adanya dana dari perusahaan tersebut yang diberikan kepada enam pejabat pemilihan umum dan dianggap melanggar ketentuan UU Pemilu Jepang.

Gubernur Tokyo yang terkenal sebagai mantan novelis terkenal dan ikut berjasa menjadikan Tokyo sebagai tuan rumah Olimpiade 2020, mengakui bahwa ia menerima uang sebesar itu. Uang dimasukkan ke dalam tasnya. Ketika tim investigasi mengatakan tidak mungkin memasukkan uang dalam kotak ke dalam tas sekecil itu, Gubernur Inose memperagakan bagaimana caranya memasukkan kotak berisi uang tersebut.

Gubernur Tokyo Naoki Inose menunjukkan tas tempat ia memasukkan uang ¥50 juta (sekitar Rp 5 milyar) dalam sidang DPRD Tokyo tanggal 16 Desember 2013.

Setelah itu, dia menyatakan mengundurkan diri sebagai gubernur Tokyo. Naoki Inose adalah mantan wakil gubernur yang maju sebagai calon gubernur. Ia menggantikan Ishihara yang mengundurkan diri setelah empat periode. Naoki Inose memenangi pemilukada Tokyo tahun 2012 dengan suara terbanyak yang pernah ada dalam sejarah pemilihan gubernur Tokyo, yaitu sekitar 4,34 juta suara.

Sahabat, korupsi itu dosa. Pertama-tama dosa melawan hati nurani yang mengingkari sumpah jabatan seorang pejabat. Namun korupsi juga merupakan dosa yang berat, karena menelantarkan rakyat banyak. Semestinya anggaran untuk pembangunan bagi kesejahteraan rakyat banyak, tetapi uang yang ada dipakai hanya oleh satu atau sejumlah orang. Orang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Orang tidak peduli terhadap sesamanya yang sangat membutuhkan untuk keluar dari kungkungan kesulitan hidup. Rakyat boleh hidup merana melarat, yang penting pejabat boleh hidup mewah. Ini dosa besar terhadap Tuhan dan sesama.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk menyadari diri kita di hadapan Tuhan dan sesama. Ketika kita melakukan kesalahan, besar atau kecil, kita mesti berani mengakuinya. Dengan mengakui kesalahan itu, kita dapat menyelamatkan banyak hal dalam kehidupan ini. Kita sadar bahwa dosa yang kita buat menyebabkan penderitaan begitu banyak orang. Untuk itu, kita mesti bertobat.

Sayang, di negeri ini para koruptor masih bebas merdeka berlenggang tangan ke sana ke mari. Bahkan para koruptor yang sudah jelas-jelas tertangkap basah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi masih juga membela diri. Mereka masih merasa tidak bersalah atas perbuatan jahat mereka. Mereka tidak tertunduk malu saat digelandang petugas keamanan menuju hotel prodeo. Mereka tidak menyadari bahwa perbuatan kotor mereka telah menyebabkan begitu banyak rakyat yang menderita.

Orang beriman mesti mengubah hidupnya. Orang beriman mesti berani menyadari diri bahwa perbuatan dosa membawa akibat soscial yang begitu mengerikan. Misalnya, kemiskinan, kemelaratan hidup, perpecahan dalam kehidupan bersama dan contoh negatif bagi generasi penerus bangsa ini.

Karena itu, orang beriman mesti berani memerangi korupsi. Bukan hanya mengatakan ‘tidak’ terhadap korupsi. Tetapi lebih dari itu, mengatakan korupsi adalah kanker yang membawa penderitaan bagi rakyat. Semoga semakin banyak koruptor menyadari perbuatannya dan bertobat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1117

04 Juli 2014

Melewati Ujian Iman

 
Apa yang akan Anda lakukan untuk meraih sukses dalam hidup ini? Anda duduk-duduk saja? Atau Anda mau bersusah payah dengan bekerja keras?

Perempuan perkasa ini bernama Noor Liesnani Pamella. Ia ibu dari lima anak, tiga menantu dan 10 cucu. Beliau adalah pemilik Pamella Supermarket, sebuah nama bisnis retailer yang takkan terasa asing bagi masyarakat Yogyakarta. Terlebih, saat ini, Pamella Supermarket sudah memiliki 6 cabang dan SPBU sebagai jenis investasi lain.

Masyarakat Yogyakarta pasti mengenal Pamella Supermarket, karena memang menempati lokasi-lokasi strategis di Yogyakarta. Namun, sebenarnya supermarket raksasa yang menggurita itu dibangun dengan susah payah oleh Pamella. Banyak orang belum mengetahui sejarah berdirinya swalayan ini.

“Saya lakukan pekerjaan ini ketika saya masih sekolah di SMP II Puteri Muhammadiyah. Saya ingin meringankan beban ibu yang sedemikian berat. Dengan menggunakan sepeda pemberian Simbah, saya membawa rantang yang berisi makanan untuk dijual ke teman-teman di sekolah. Makanan itu dimasak oleh ibu. Selain itu, saya pun berjualan pakaian yang diambil dari toko milik Pakdhe. Saya melakukan semua pekerjaan ini tanpa beban dan tanpa rasa malu. Saya mengerjakan semuanya dengan senang dan hati ikhlas,” kata Pamela tentang kerja kerasnya membangun usahanya.

Bisnis retail pun dimulai dari cara yang sangat sederhana. Pamella mengatakan bahwa kondisinya waktu itu tak memungkinkan dirinya menjadi pegawai negeri. Ia hanya punya ijazah SMP. Ketika dinikahi oleh Pak Sunardi pada 14 September 1975, Bu Pamella diminta agar membantunya mencari nafkah. Karena tak mungkin menjadi pegawai negeri, satu-satunya cara adalah menggeluti usaha berdagang. Ia pun mendirikan sebuah warung kecil berukuran 5×5 meter di Jalan Ipda Tut Harsono di atas tanah warisan ayahnya.

Setiap hari, warung itu diisi dengan kebutuhan pokok senilai Rp 250.000. Modalnya tak hanya berasal dari miliknya, tetapi juga pinjaman dari ibunya. Lambat laun, usahanya kian maju. Pada Bulan Ramadhan, omzetnya kian melejit. Berkat usaha dan keuletannya, omzetnya bisa mencapai Rp 60-100 ribu. Tiga karyawan pun dilibatkan karena pengunjung warungnya kian banyak. Kini, Pamella Supermarket telah menjadi “penguasa” dunia usaha retail di Yogyakarta.

Sahabat, mengalahkan bisa karena biasa. Begitu kata pepatah. Suatu usaha yang sukses tentu tidak datang dengan sendirinya. Suatu keberhasilan tidak pernah dicapai melalui ongkang-ongkang kaki alias bermalas-malasan. Hanya para koruptor yang bisa sukses dengan tidak berkeringat. Hanya para penipu yang meraih sukses yang semu. Mereka tidak pernah nyenyak saat tidur malam. Mereka selalu terbangun oleh keresahan yang mendalam, karena teguran suara hatinya yang masih jernih.

Namun orang yang mau bekerja keras akan meraih sukses dengan penuh sukacita. Meski pada awal mengalami duka nestapa, tetapi di akhir perjuangan akan mengalami kegembiraan yang besar.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa usaha dan kerja keras menjadi jaminan untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Namun usaha dan kerja keras itu tidak tiba-tiba muncul. Orang mesti melatih diri sejak awal kehidupan ini. Orang kemudian mengasahnya dalam perjalanan hidup sehari-hari. Dengan demikian, ketrampilan menjadi bagian dari hidupnya.

Beriman kepada Tuhan juga bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Beriman kepada Tuhan itu mesti diasah dan dipupuk dalam kenyataan hidup sehari-hari. Ada saatnya orang jatuh terjerembab ke dalam penderitaan. Tetapi hal ini menjadi suatu kesempatan untuk bangkit dan menata kembali hidup iman. Iman diuji dalam perjalanan hidup sehari-hari. Ketika orang mampu melewati ujian iman itu, orang akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya bersama dengan Tuhan.

Yakinlah, Tuhan tidak akan meninggalkan manusia bekerja dan bejuang sendirian. Tuhan pasti membantu manusia ketika jatuh ke dalam penderitaan. Tuhan akan memberikan rahmat dan kasih karuniaNya. Mari kita mengasah iman kita dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Tuhan memberkati. **

03 Juli 2014

Tanamkan Tekad untuk Meraih Sukses

 
Apa yang Anda lakukan, ketika kemiskinan dan kesulitan hidup melilit perjalanan hidup Anda? Anda meratapi nasib Anda? Atau Anda mengambil langkah seribu untuk mengatasi kemiskinan dan kesulitan hidup Anda?

Iwan Setyawan adalah anak seorang sopir angkot di Kota Malang, Jawa Timur. Saat masih kecil, nama tengahnya adalah ‘Anak Miskin’. Namun kini nama tengahnya adalah Perantau Sukses. Tentu saja kesuksesan itu bukan ia raih dengan menadahkan tangan di pinggir jalan. Ia raih kesuksesan hidup itu dengan mengandalkan kerja keras.

Iwan memulai perjalanan hidupnya bermula dari sebuah mimpi untuk memiliki kamar sendiri. Iwan bosan dengan rumah kontrakan sempit yang dihuni tujuh anggota keluarganya. Pria kelahiran tahun 1974 ini pun belajar dengan rajin. Susah payah orangtua membiayainya menamatkan kuliah di Institut Pertanian Bogor. Namun gajinya selama tiga tahun sebagai data analis tetap belum memuaskan. Hingga dia pun mencoba merantau dari Kota Apel Malang ke kota 'Big Apple', New York City, Amerika Serikat.

Malang melintang, Iwan memacu karier selama 10 tahun. Hingga akhirnya dia menjabat Director Internal Client Management Data Analysist and Consulting Nielsen Consumer Research New York. Hanya cinta yang akhirnya membuat dia kembali ke Indonesia.

“Saya ingin berterima kasih pada semua orang yang mendukung saya. Dan saya ingin melakukan sesuatu yang touch people (menyentuh langsung persoalan manusia),” kata Iwan.

Iwan pun merekam jejak perjalanan hidupnya dalam novel '9 Summers 10 Autumns' yang laris di pasaran. "Semakin kita jauh merantau itu membesarkan hati. Merantau itu membuat saya menyadari semakin jernih rasa cinta terhadap kampung halaman dan keluarga," tutur Iwan.

Sahabat, di mana pun kita berada selalu saja ada tantangan yang menghadang perjalanan hidup kita. Namun hal itu tidak boleh menghambat kita untuk maju dalam kehidupan ini. Kita mesti terus-menerus melangkahkan kaki kita. Kita mesti yakin bahwa hidup ini tidak selamanya di bawah. Ketika kita berjuang dengan keras, kita akan meraih hidup yang lebih baik. Kerja keras menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup ini.

Kisah di atas memberi kita contoh untuk berani berjuang dalam kehidupan ini. Kesulitan hidup atau kemiskinan bukan menjadi penghalang bagi kita untuk berjuang. Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Tidak ada alasan untuk meratapi kesulitan hidup kita. Justru kesulitan hidup itu menjadi pemacu untuk bekerja lebih keras.

Iwan Setyawan, anak supir angkot, telah membuktikannya. Ia meraih cita-citanya dengan bekerja keras. Ia berhasil keluar dari kungkungan kemiskinan berkat tekad membaja yang tertanam dalam dirinya. Tentu saja ia tidak berjuang sendirian. Ia menyatukan perjuangannya dengan rahmat Tuhan yang senantiasa menuntun dirinya.

Orang beriman itu membawa Tuhan ke mana pun pergi. Karena itu, orang beriman tidak pernah takut dalam perjalanan hidupnya. Justru orang beriman menjadi semakin berani untuk menjalani hidup ini. Hanya orang beriman yang berani berjibaku dalam merebut hidup yang lebih baik.

Mari kita berjalan bersama Tuhan dalam upaya meraih kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, hidup ini sungguh-sungguh bermakna bagi diri dan sesama. Hidup ini menjadi kesempatan untuk mengaktualisasikan diri kita. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1116

02 Juli 2014

Hati yang Tergerak oleh Penderitaan Sesama

 
Apa yang akan Anda lakukan terhadap sesama Anda yang kurang beruntung dalam hidup ini? Anda biarkan saja? Atau Anda tergerak hati untuk menolongnya?

Andras Peto menyaksikan sendiri banyak anak yang mengalami kerusakan otak usai Perang Dunia II. Ia tidak tinggal diam. Sebagai seorang dokter, ia tergerak hatinya untuk membantu sesamanya. Ia mendirikan sebuah pusat pelatihan untuk merehabilitasi otak anak-anak yang rusak. Namun ia juga memberikan pendidikan bagi anak-anak.

Ia yakin, otak anak-anak yang rusak itu seperti suka lupa, sensori dan motorik serta ketrampilan berbahasa yang rusak akan dibangun kembali. Hal itu dapat terjadi melalui latihan yang keras.

Sekarang ini, sekitar 1500 anak mengikuti pelatihan di Institut Peto di Budapest, Hungaria. Andras Peto sendiri telah meninggal dunia pada 11 September 1967, namun karyanya tetap dilestarikan hingga kini. Anak-anak yang mengalami kerusakan otak yang mendapatkan perawatan ketika berusia enam bulan hingga empat tahun akan mengalami kesembuhan. Mereka bisa masuk ke tingkat pendidikan sekolah dasar dengan normal.

Apa yang telah dimulai oleh Andras Peto tidak sia-sia. Ia membantu banyak orang untuk keluar dari persoalan hidup mereka. Tentu saja ini sebuah karya kemanusiaan yang sangat membantu banyak orang dalam kehidupan ini.

Sahabat, suatu kepekaan terhadap sesama yang menderita menjadi bagian dari kehidupan manusia. Namun kepekaan itu mesti disertai dengan cinta yang mendalam terhadap kehidupan ini. Mengapa? Karena suatu karya tanpa cinta yang mendalam hanyalah sebuah karya sosial biasa saja. Ketika ada rintangan yang menghadang, orang akan meninggalkan karya itu.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa usaha Andras Peto menjadi sungguh-sungguh bermakna, ketika ia melakukannya dengan cinta yang mendalam terhadap kehidupan. Ia tidak sekedar membantu anak-anak yang mengalami kerusakan otak. Tetapi dengan cinta yang mendalam, ia ingin membantu generasi muda untuk menghadapi kehidupan yang lebih baik. Tentu saja ada banyak tantangan yang mesti ia hadapi. Namun ia mampu melewati segala tantangan itu.

Dalam kehidupan kita di zaman modern ini, kita juga berhadapan dengan kepedihan-kepedihan. Ada banyak sesama kita yang kurang beruntung dalam hidup mereka. Ada berbagai sebab. Namun yang pasti, kehadiran mereka menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan hal-hal baik dengan penuh kasih. Mereka adalah bagian dari kehidupan kita. Mereka mesti mendapatkan perhatian dan kasih yang mendalam.

Bagi orang beriman, membantu sesama yang berkekurangan merupakan bagian dari penghayatan iman. Iman tidak hanya ada di dalam pikiran atau hati saja. Iman mesti tampak dalam kehidupan sehari-hari. Iman mesti tumbuh dalam proses hidup manusia. Untuk itu, kita mesti melaksanakan iman dalam kehidupan yang nyata, meskipun banyak rintangan yang kita hadapi dalam kehidupan ini.

Mari kita berusaha untuk melaksanakan iman kita dengan membangun kepedulian terhadap sesama yang menderita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermakna. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1115