Pages

30 Juli 2014

Hidup dalam Keselarasan

 
Apa yang akan Anda lakukan, saat Anda berhadapan dengan sesama Anda yang banyak bicara? Anda biarkan saja? Anda cuek saja? Atau Anda mengambil ide-idenya untuk melakukan berbagai hal yang baik bagi kehidupan ini?

Sudah lima bulan ini, seorang teman saya tidak mau menonton televisi lagi. Ia mogok. Bahkan layar televisi yang ada di rumahnya dia tutup dengan kertas putih. Ia mau berdiam diri saja. Ia tidak mau mendengarkan obrolan-obrolan para politisi di televisi.

Menurutnya, para politisi itu hanya mengumbar ide-ide. Mereka lebih banyak bicara. Mereka tidak punya telinga untuk mendengarkan suara rakyat, meski mereka selalu mengklaim bahwa mereka selalu peduli terhadap kepentingan rakyat.

Nyatanya, menurut teman saya itu, banyak kejanggalan terjadi di negeri ini. Ada korupsi yang dibiarkan terus-menerus berlangsung. Padahal ada puluhan juta rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Anehnya lagi, rakyat yang berusaha mati-matian untuk memenuhi kebutuhan mereka, tetapi para politisi itu menyetujui pemungutan pajak.

Melihat situasi seperti itu, teman saya itu kesal. Ia protes. Ia mogok. Langkah selanjutnya adalah ia merencanakan untuk tidak mau bayar pajak. Ia tahu bahwa hal ini melanggar peraturan. Tetapi ia lakukan itu demi tegaknya keadilan. Apalagi selama ini ia sering ditekan oleh petugas pajak untuk menyuap.

Ia berkata, “Saatnya kita harus ambil tindakan. Kita tidak bisa biarkan praktek-praktek kejahatan merajalela terus-menerus.”

Sahabat, ada orang-orang yang lebih suka berbicara daripada melakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan bersama. Orang yang banyak bicara merasa lebih hebat daripada yang sedikit bicara. Soalnya adalah apakah yang dibicarakan itu demi kebahagiaan bersama? Atau yang dibicarakan itu hanya untuk kesenangan pribadi?

Mungkin baik kita mengikuti usulan untuk mendengar lebih banyak dan berbicara lebih sedikit. Mendengar membuat kita belajar banyak hal dari orang lain. Orang yang banyak bicara memberikan ide-ide bagi kita. Kita mendapatkan berbagai masukan bagi karya kita. Karena itu, kita tidak perlu menggerutu saat ada orang di sekitar kita yang banyak bicara. Kita tidak perlu mogok untuk mendengarkan orang lain yang berbicara banyak itu.

Mendengar juga memungkinkan kita untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama kita. Mungkin kita akan mudah membangun relasi yang berguna bagi hidup kita. Dengan cara demikian, kita menjadi orang yang punya banyak sahabat.

Kisah teman saya di atas menjadi suatu pertimbangan yang baik juga. Ia punya sikap yang tegas. Tetapi kurangnya adalah ia mudah mogok. Ia berhenti untuk melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Ia memilih untuk bersikap pasif. Semestinya ia mulai membangun relasi dengan sesamanya. Dengan demikian, ia memiliki banyak kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi hidupnya dan sesamanya.

Orang beriman mesti berani memberikan solusi bagi suatu situasi yang kurang baik. Bukannya mengambil sikap mogok dan tidak melakukan hal-hal yang baik bagi sesama. Mari kita tetap berusaha untuk mendengarkan banyak dan berbuat banyak bagi kehidupan. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan orang lain. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1124

29 Juli 2014

Hati yang Tergerak oleh Sesama yang Membutuhkan

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda berhadapan dengan sesamas yang sangat membutuhkan bantuan Anda? Anda biarkan begitu saja? Atau Anda mau mengulurkan tangan membantunya?

Seorang pengusaha muda baru saja membeli mobil mewah. Dia mengendarai kendaraan barunya dengan kecepatan tinggi menuju tempat kerjanya yang cukup jauh. Di pinggir jalan tampak beberapa anak sedang bermain, namun ia tidak begitu memperhatikannya. Tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil melintas di pinggir jalan, tepat yang dilalui oleh pengusaha muda itu. Anak itu terlihat menggenggam sesuatu di tangannya.

Tak...! sebuah batu melayang dan tepat mengenai mobilnya. Bagian sisi pintu mobilnya tergores. Dengan geram pengusaha muda itu keluar dari mobilnya, lalu ia menarik baju anak itu. Dengan marahnya, ia berteriak seakan hendak menelan anak itu hidup-hidup.

Pengusaha muda itu menyergah anak itu, “Apa yang telah kau lakukan? Kau sangka murah untuk memperbaikinya?”

Sang anak dengan muka pucat pasi, karena ketakutan, memohon-mohon maaf. Ia berkata, “Pak, saya melakukan itu karena saya tidak tahu lagi apa yang harus saya perbuat. Maafkan saya, Pak. Saya terpaksa melemparkan batu itu, karena tidak ada seorang pun yang mau berhenti...”

Air mata anak itu berlinang, menetesi tangan pengusaha itu. Lantas anak itu berkata, “Lihat, Pak. Di sana kakak saya yang lumpuh terjatuh dari kursi roda. Saya tidak kuat untuk mengangkatnya. Tak seorang pun datang menolong saya. Maukah bapak menolong saya untuk mengangkat kakak saya?”

Hati pengusaha muda itu bergetar melihat kenyataan yang ada di hadapannya. Segera dia mengangkat si cacat itu dari kursinya. Ia merelakan sapu tangannya untuk mengusap luka di lutut si cacat. Ia merenungkan peristiwa itu. Ia membiarkan goresan itu membekas di pintu mobilnya, agar ia tetap mengingat pengalaman yang menggores hatinya.

Sahabat, selalu saja ada jalan untuk melihat terang yang besar yang ada dihadapan kita. Peristiwa-peristiwa hidup memberi kita bantuan untuk menemukan kebaikan dalam perjalanan hidup kita. Namun begitu sering banyak orang mengalami kesulitan untuk tergerak oleh belas kasihan.

Kisah di atas mau mengingatkan kita akan tugas dan panggilan kita. Kita semua dipanggil untuk membantu sesama kita yang kurang beruntung dalam hidup ini. Pengusaha muda itu kemudian tergerak hatinya setelah menyaksikan sendiri penderitaan sesamanya. Ia mau membantunya. Ia mau bersusah payah untuk mengangkat sesamanya yang sedang terjerembab. Tentu saja aksinya menjadi sesuatu yang istimewa.

Orang beriman dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam upaya menyelamatkan sesamanya yang sedang menderita. Sesama senantiasa hadir di sekitar kita. Ada sesama yang sudah beruntung yang tidak perlu lagi dibantu. Tetapi ada sesama yang mesti mendapatkan perhatian dari kita.

Soalnya adalah apakah kita senantiasa sadar akan kehadiran sesama kita yang membutuhkan itu? Bukankah kita lebih sibuk dengan diri kita sendiri? Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita sering lupa dengan sesama kita? Kita cenderung berkutat dan asyik dengan dunia kita. Kita diingatkan bahwa kita mesti merubah sikap kita dan sadar bahwa di sekitar kita ada begitu banyak orang yang membutuhkan bantuan kita.

Untuk itu, kita mesti berhenti sejenak dari kesibukan kita. Kita mencoba untuk melihat kembali apa yang telah kita lakukan selama ini. Dengan demikian, kita dapat membawa sesama kepada sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1123

27 Juli 2014

Belajar Melayani Sesama

 
Mampukah Anda melayani sesama yang hidup di sekitar Anda? Anda akan mampu melayani sesama Anda, kalau Anda mampu melayani diri Anda sendiri.

Presiden China, Xi Jinping, melakukan hal yang tidak biasa dengan antre dan makan di sebuah restoran di Beijing, berbaur dengan warga biasa. Foto-foto yang diunggah ke media sosial Weibo - yang dikenal sebagai Twitter-nya China - memperlihatkan Presiden Xi mengunjungi jaringan restoran Qinfeng. Restoran ini yang menyediakan roti kukus atau steamed bun.

Presiden China, Xi Jinping, mengantre, membayar sendiri, membawa nampan ke salah satu meja. Lantas ia menyantap hidangan untuk makan siang tersebut. Restoran Qingfeng tengah padat pengunjung saat Presiden Xi berada di restoran.

Surat kabar South China Morning Post memberitakan bahwa para pengunjung langsung mengambil foto begitu menyadari pria yang berada di salah satu meja adalah salah satu orang terpenting di China. Tak lama kemudian foto-foto Presiden Xi ini ramai di Weibo.

Seorang pengguna jaringan Weibo berkata, "Saya sampai tak percaya melihat Presiden Xi antre, bayar sendiri, dan membawa nampan makanan."

Para pejabat tinggi China biasanya selalu mendapatkan pengawalan ketat. Sejak menjabat sebagai presiden pada Maret 2013 lalu, Xi berulang kali menyerukan agar para pejabat China tidak bergaya hidup mewah. Mereka mesti lebih sering bergaul dengan rakyat biasa.

Sahabat, sering manusia menginginkan kehormatan. Karena itu, mereka sering berusaha untuk dihormati. Mereka mencari kehormatan itu dalam berbagai kesempatan. Kalau sampai tidak mendapatkan kehormatan, mereka merasa tersinggung. Mereka kemudian menjadi marah. Kalau orang itu seorang yang terpandang, ia akan sangat marah terhadap orang yang melakukan dirinya dengan tidak hormat.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tidak menempatkan diri kita sebagai orang yang sangat dihormati. Presiden Xi Jinping tidak peduli terhadap status dirinya sebagai seorang penguasa tertinggi di negerinya. Bahkan ia merasa statusnya itu mengganggu dirinya untuk bersentuhan langsung dengan rakyat yang dipimpinnya. Karena itu, ia berani berbaur dengan rakyatnya. Ia memberikan contoh bahwa seorang pemimpin mesti mau melayani dirinya sendiri. Ia tidak harus dilayani oleh rakyatnya.

Melayani sesama merupakan panggilan jiwa dari setiap manusia. Namun begitu banyak orang yang lebih menantikan pelayanan dari sesamanya. Orang enggan untuk melayani sesamanya. Mengapa? Karena orang merasa dirinya lebih penting daripada yang lain. Orang merasa dirinya lebih pantas untuk dilayani.

Tentu saja ini suatu gaya hidup yang mewah. Memiliki pelayan itu mengandaikan orang mampu membayar orang yang melayani dirinya. Padahal manusia dipanggil untuk melayani sesamanya. Melayani sesama mengandaikan orang mampu hidup ugahari. Orang mampu merendahkan diri di hadapan sesamanya dengan rela menjadi pelayan bagi sesamanya.

Tentu saja hal ini tidak mudah. Mengapa? Karena orang mesti mampu merendahkan diri di hadapan orang yang akan dilayani itu. Karena itu, menjadi pelayan itu membutuhkan suatu kerendahan hati. Yesus mengatakan bahwa Ia hadir di dunia ini bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.

Pertanyaan bagi orang beriman di zaman sekarang adalah beranikah kita merendahkan diri untuk melayani sesama kita? Tampaknya kita mesti belajar dari Presiden Xi Jinping yang tidak mau merepotkan rakyatnya. Dengan melayani dirinya sendiri, ia belajar untuk melayani rakyatnya dengan hidup sederhana. Mari kita memiliki semangat melayani sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT
1122

25 Juli 2014

Menghadapi Rintangan dengan Optimisme


Apa yang akan Anda lakukan, ketika berbagai rintangan menghadang upaya Anda untuk meraih sukses? Anda berhenti di tengah perjalanan hidup ini? Atau Anda berusaha untuk menghadapi rintangan-rintangan itu dengan penuh optimisme?

Seorang bocah berusia sembilan tahun asal Amerika menjadi orang termuda yang berhasil mencapai puncak gunung Aconcagua, puncak tertinggi di benua Amerika. Tyler Amstrong mendaki pegunungan Andes di Argentina itu bersama ayahnya dan seorang sherpa asal Tibet, Lhawang Dhondup.

Meski berhasil mencapai puncak gunung Aconcagua, Tyler tetap rendaha hati. “Semua bocah bisa melakukan ini, cuma perlu mencoba saja,” katanya.

Ia berhasil mencapai puncak pada malam Natal tahun 2013 yang lalu. Tahun sebelumnya pencapaian tertingginya adalah puncak Kilimanjaro, titik tertinggi di Afrika.

Tentang rahasia suksesnya, ia berkata, “Yang penting pusatkan perhatian pada tujuan.”

Tetapi pencapaian ini bukan main-main. Sudah lebih dari 100 orang yang meninggal dunia akibat upaya pendakian tersebut, yang terletak di titik hampir 7000 meter di atas permukaan laut.

Dalam kekaguman dan masih merasa ngeri, Tyler berkata, “Anda bisa melihat atmosfer dunia dari puncaknya. Semua awan ada di bawah dan sangat dingin.”

Ayahnya, Kevin Armstrong, mengatakan bahwa putra kecilnya itu berlatih mendaki secara rutin dua kali dalam sehari. Ia melakukan latihan itu selama enam bulan sebelum akhirnya melakukan pendakian ke Aconcagua.

“Sebagian besar orang mengira kami sebagai orangtua memaksa Tyler melakukan pendakian ini, yang sebenarnya adalah sebaliknya,” kata sang ayah.

Karena usianya yang masih belia, Tyler membutuhkan izin khusus dari seorang hakim di Argentina untuk melakukan pendakian itu. Menurut ayahnya, sang hakim juga mempertimbangkan bahwa upaya ini dilakukan dengan tujuan amal, yakni menggalang dana untuk riset penyakit kelainan otot muscular dystrophy.

Sahabat, hidup selalu penuh dengan tantangan. Namun ketika orang takut terhadap tantangan, orang tidak akan pernah meraih sukses dalam hidup ini. Hanya orang yang punya nyali yang kuat yang mampu menaklukan tantangan-tantangan yang sedang menghadang. Karena itu, yang dibutuhkan adalah memiliki keberanian untuk meraih kesuksesan.

Kisah Tylor memberi kita inspirasi untuk menciptakan prestasi demi prestasi dalam perjalanan hidup ini. Meski umurnya baru sembilan tahun, ia berani menghadapi dinginnya salju di puncak gunung Aconcagua itu. Namun ia meraih prestasi sebagai pendaki termuda dengan kerja keras. Ia mesti menyiapkan diri selama enam bulan untuk mewujudkan mimpinya. Artinya, ia tidak hanya bermalas-malasan sebelum menaklukan puncak gunung tertinggi di Amerika Selatan itu.

Untuk meraih sukses orang tidak bisa hanya duduk berpangku tangan saja. Orang mesti berjerih payah atau bekerja keras. Orang yang malas itu orang yang tidak punya tujuan dalam hidup ini. Orang seperti ini melihat hidup selalu diliputi oleh rintangan dan halangan. Orang seperti ini selalu pesimis dalam menjalani hidup ini.

Sebaliknya, orang yang rajin selalu melihat hidup ini dari sudut pandang positif. Mereka selalu optimis untuk meraih sukses meski ada begitu banyak rintangan dan halangan dalam menapaki perjalanan hidup ini.

Orang beriman adalah orang yang selalu melihat hidup ini dari sudut pandang positif. Orang beriman selalu optimis dalam hidupnya. Selalu ada jalan dan cara untuk menghadapi rintangan yang menghadang perjalanan hidup ini. Mari kita meraih sukses dengan selalu memiliki optimisme dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk mengalami sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1121

23 Juli 2014

Mengenyahkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga



Apa yang akan Anda lakukan ketika kejahatan terjadi dalam rumah tangga Anda? Saya yakin, Anda pasti merasa sedih. Anda tentu saja tidak bisa menerima kondisi seperti itu. Apalagi Anda sendiri menjadi korban.

Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja! Lagu ratapan anak tiri itu mungkin pas menggambarkan mirisnya nasib Aditya, anak berusia delapan tahun yang menjadi bulan-bulanan pelampiasan kekesalan sang ibu tiri.

Ibu tiri itu mengaku sangat kesal terhadap Aditya. "Saya tak sabar menghadapinya. Makanya saya buang saja di kebun sawit dan semoga dijumpai orang. Itu lebih baik, daripada hilang kesabaranku, terbunuhku pulak dia nanti," kata sang ibu tiri.

Akibat dari perbuatan ibu tiri itu, Aditya mengalami penderitaan lahir dan batin. Ibu tiri dan suaminya tega menyiksa Aditya. Setelah itu mereka membuangnya di kebun sawit di areal perkebunan sawit PTP Nusantara V, Desa Talang Kanto, Kecamatan Tapung Hulu, Kampar, Riau, pada Minggu (15 Desember 2013) lalu.

Aditya nan malang menderita luka di sekujur tubuhnya. Bukan hanya itu, ia mengalami trauma psikologis, apalagi melihat sosok perempuan dan gunting. Ia kemudian berada di bawah relawan yang berusaha untuk mengembalikan kondisi psikologisnya.

Ketika digelandang aparat kepoisian, ibu tiri itu menangis tersedu-sedu. Ia akhirnya ditangkap bersama sang suaminya yang merupakan ayah kandung Aditya setelah menjadi buruan polisi. Ibu tiri itu punya beribu dalih hingga siap sumpah mati. Ia mengaku kesal bukan kepalang melihat tingkah polah Aditya yang dianggapnya nakal. Kedua sejoli ini pun mendekam di sel tahanan Mapolres Kampar.

Sang ibu tiri membantah, jika dia punya niat membunuh Adit. Ia berkata, "Saya minta ke suami agar Adit dibuang saja di kebun sawit biar dipungut orang. Karena saya tak tahan lagi mengasuhnya.”

Sahabat, suatu kejahatan terhadap kehidupan terjadi di depan mata. Sang anak manusia mesti menderita oleh perbuatan orang-orang yang sangat dekat dengan dirinya. Ia menjadi bukan siapa-siapa. Kehadirannya ditolak sama sekali. Kehadirannya tidak diperhitungkan oleh orang-orang yang semestinya mencintai dirinya.

Kisah di atas mesti menjadi pelajaran bagi kita semua. Penyiksaan terhadap sesama manusia mesti dihentikan, karena tidak sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Manusia tidak punya hak atas hidup orang lain. Hanya Tuhan yang punya hak terhadap diri manusia.

Manusia juga tidak bisa mengatasnamakan Tuhan untuk menyiksa sesamanya, apa pun kelakuan sesamanya itu. Mengapa? Tuhan yang memiliki kehidupan ini pun tidak akan menyiksa ciptaanNya. Bahkan Tuhan dengan sabar menantikan pertobatan dari manusia di kala manusia jatuh ke dalam dosa.

Karena itu, kita mesti mendidik diri kita sendiri. Para suami istri mesti mendidik diri untuk bertanggungjawab atas kehadiran anak-anak dalam keluarga. Para pasangan suami istri mesti belajar untuk memiliki kesabaran dalam mendidik anak-anaknya. Siapa pun anak-anak itu, mereka telah dipercayakan Tuhan kepada para pasangan suami istri. Orang mesti mendidik anak-anak itu dengan penuh kasih sayang.

Mari kita membangun kesadaran akan tanggung jawab dalam mendidik sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri, Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1120